Diduga Pungut Dana Komite, KEPSEK SD Negeri 16 Desa Paya Tuai Sorotan, Tanda Tangan Guru Honorer Dipertanyakan

- Jurnalis

Senin, 29 Juni 2026 - 17:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

tarakanindonesia.com, Pesawaran – Dugaan praktik pemungutan dana komite kembali mencuat di dunia pendidikan. Kali ini, sorotan mengarah ke SD Negeri 16 Desa Paya, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, yang diduga melakukan penarikan dana komite kepada para wali murid dengan nominal Rp120.000 per siswa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, dana tersebut dipungut dalam dua tahap, yakni sebesar Rp60.000 pada tahun 2025 dan Rp60.000 pada tahun 2026. Penarikan itu disebut-sebut dilakukan dengan alasan untuk pembangunan paving block di halaman sekolah.

Namun, muncul sejumlah kejanggalan dalam proses pengumpulan dana tersebut.

ADVERTISEMENT

iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat dikonfirmasi, Kepala SD Negeri 16 Desa Paya mengaku tidak mengetahui adanya pemungutan dana komite yang dilakukan kepada para wali murid. Pernyataan tersebut justru menimbulkan tanda tanya, mengingat media ini memperoleh bukti berupa kwitansi dan kopelan penerimaan uang yang digunakan sebagai tanda bukti pembayaran.

Dari dokumen tersebut terungkap dugaan bahwa tanda tangan pada kwitansi penerimaan bukan dilakukan oleh pengurus Komite Sekolah sebagaimana mestinya, melainkan diduga ditandatangani oleh salah seorang guru honorer yang bertugas di SD Negeri 16 Desa Paya.

Baca Juga :  Wednesday Addams Musim Pertama | Teaser Resmi | Netflix

Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan upaya konfirmasi kepada guru honorer yang diduga membubuhkan tanda tangan pada kwitansi penerimaan dana komite. Melalui pesan WhatsApp, media ini meminta klarifikasi mengenai keaslian tanda tangan yang tercantum dalam dokumen tersebut.

Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan jawaban maupun klarifikasi atas pertanyaan yang disampaikan, sehingga memunculkan kesan mengabaikan upaya konfirmasi dari media.

Praktik penarikan dana tersebut menjadi perhatian karena bertentangan dengan ketentuan yang mengatur keberadaan Komite Sekolah.

Dalam Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah ditegaskan bahwa:

Pasal 10 ayat (2) menyebutkan bahwa Komite Sekolah, baik perseorangan maupun kolektif, dilarang melakukan pungutan dari peserta didik atau orang tua/wali peserta didik.

Pasal 12 ayat (1) mengatur bahwa penggalangan dana dan sumber daya pendidikan lainnya oleh Komite Sekolah hanya dapat berbentuk sumbangan dan/atau bantuan yang bersifat sukarela, tidak mengikat, serta tidak boleh memaksa orang tua/wali peserta didik, peserta didik, maupun satuan pendidikan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dengan demikian, apabila dana yang diminta kepada wali murid bersifat wajib, memiliki nominal yang telah ditentukan, atau menjadi syarat tertentu, maka hal tersebut berpotensi tidak sejalan dengan ketentuan yang berlaku.

Baca Juga :  Pesawaran-IPB University: Kolaborasi AI untuk Press Release yang Lebih Efektif

Selain dugaan adanya pungutan, keterlibatan seorang guru honorer yang diduga menerima atau menandatangani bukti penerimaan dana juga menjadi perhatian. Sebab, secara kelembagaan, pengelolaan dana hasil penggalangan oleh Komite Sekolah semestinya menjadi tanggung jawab pengurus komite, bukan tenaga pendidik ataupun pihak lain yang tidak memiliki kewenangan.

Kondisi ini memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Apakah terdapat koordinasi atau kerja sama antara oknum pengurus Komite Sekolah dengan pihak sekolah dalam pelaksanaan penarikan dana tersebut? Atau justru terdapat penyalahgunaan kewenangan dalam mekanisme pengumpulan dana dari wali murid?

Demi menjamin transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana pendidikan, publik berharap pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan Kabupaten Pesawaran, dapat melakukan penelusuran dan pemeriksaan menyeluruh terhadap dugaan tersebut. Apabila ditemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, maka penanganan sesuai mekanisme hukum dan administrasi perlu dilakukan agar tidak menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan.

Follow WhatsApp Channel tarakanindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kepsek Akui Tak Tahu, Ketua Komite Sebut Sudah Ada “Kesepakatan Wali Murid
Daun Pintu RTLH TMMD Ke 127 Kodim 0421/LS Mulai Dipasang
Bupati Pesisir Barat Kukuhkan Pengurus FKUB Periode 2025–2030, Tekankan Dialog Lintas Agama
Wabup Pesawaran Sepakati Rencana Pembangunan KDMP di Relokasi ke Lahan Pemda Pasar Trimulyo
Pemkab Pesawaran Sampaikan Duka Mendalam Atas Musibah Tenggelamnya Dua Pelajar di Sungai Batang Hari Ogan
MTQ Provinsi Lampung Ke-52 Ditutup, Sekda Pesisir Barat: Acara Ini Momentum Bangkitkan Prestasi Qari Daerah  
Pemkab Pesawaran Lantik 123 Pejabat Fungsional, Wabup Antonius Tekankan  Profesionalisme dan Integritas ASN
Kejati Lampung Sita Tanah dan Bangunan Mantan Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona di Bandar Lampung  

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 17:50 WIB

Diduga Pungut Dana Komite, KEPSEK SD Negeri 16 Desa Paya Tuai Sorotan, Tanda Tangan Guru Honorer Dipertanyakan

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:43 WIB

Kepsek Akui Tak Tahu, Ketua Komite Sebut Sudah Ada “Kesepakatan Wali Murid

Sabtu, 28 Februari 2026 - 08:36 WIB

Daun Pintu RTLH TMMD Ke 127 Kodim 0421/LS Mulai Dipasang

Senin, 19 Januari 2026 - 15:10 WIB

Bupati Pesisir Barat Kukuhkan Pengurus FKUB Periode 2025–2030, Tekankan Dialog Lintas Agama

Kamis, 15 Januari 2026 - 17:08 WIB

Wabup Pesawaran Sepakati Rencana Pembangunan KDMP di Relokasi ke Lahan Pemda Pasar Trimulyo

Berita Terbaru

Agama

Muharram dan Spirit Pengabdian Perempuan Muslimat NU

Minggu, 28 Jun 2026 - 00:09 WIB