Ironi Paripurna: Ketika Cinta Tubaba Hanya Sekadar Fatamorgana

- Jurnalis

Selasa, 7 April 2026 - 21:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Ansyori Ali Akbar

(Salah satu tokoh pemekaran Tubaba)

Selasa, 7 April 2026

ADVERTISEMENT

iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

TULANG BAWANG BARAT, LAMPUNG – Hari itu, semestinya ufuk Tubaba memancarkan semarak kebanggaan. Usia ke-17 yang tergapai, sebuah epitom kematangan, kemandirian, dan epik perjalanan panjang yang terlahir dari rahim pemekaran.

Puncak perayaan ini? Tak lain adalah Sidang Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tulang Bawang Barat. Sebuah mimbar yang seharusnya transenden, tempat konvergensi denyut nadi pemerintahan dan aspirasi rakyat, merajut memori masa lalu, lalu menata blueprint masa depan.

Namun, yang terhampar di hadapan kita adalah sebuah ironi yang begitu menyengat. Menusuk sanubari akal sehat, dan mengoyak kohesi kebersamaan. Bayangkan, dari 35 kursi legislatif yang terhormat itu, tercatat 19 di antaranya tak berpenghuni.

Lebih dari separuh! Ini bukan sekadar anomali statistik, melainkan sebuah cermin buram yang merefleksikan kedangkalan “cinta” dan “rasa memiliki” terhadap Tubaba yang selama ini selalu dielu-elukan.

Ketika Ketua DPRD dengan retorika berwibawa membuka sidang, dan Bupati penuh optimisme membentangkan visi, kursi-kursi yang bisu itu justru bersuara lebih nyaring dari segala orasi. Ketiadaan fisik mereka memang kasat mata, namun yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah absennya komitmen moral.

Absennya gratifikasi syukur atas pemekaran yang telah menghantar mereka pada privilege tersebut. Absennya pemahaman substansial akan esensi sebuah momen yang seharusnya sakral.

Dies Natalis ke-17 Tubaba, Angka 17, dalam konteks banyak peradaban, identik dengan momentum kematangan dan gejolak semangat muda yang membara. Di usia ini, Tubaba sepatutnya menemukan pijakan yang lebih kokoh, bukan justru dipertontonkan kerapuhan fondasi dari pilar-pilar pentingnya. Paripurna, yang semestinya menjadi katalisator refleksi dan konsolidasi, justru terdegradasi menjadi lakon inkonsistensi yang menyayat hati.

Mari kita merenung, Tubaba itu tidak eksis begitu saja. Keberadaannya adalah kulminasi dari perjuangan yang tak kenal kompromi. Keringat yang menetes, air mata yang membasahi pelupuk, dan waktu yang tak terhitung jumlahnya telah dikorbankan oleh para arsitek pemekaran.

Baca Juga :  Kapolres Tulang Bawang Barat Buka Kejuaraan Pencak Silat Bupati Cup: Ajang Sportivitas, dan Pembinaan Atlet

Sebuah proses yang sarat kompleksitas, berliku, penuh intrik dan pengorbanan heroik, hingga akhirnya melahirkan entitas kabupaten yang kini kita diami. Ini adalah sebuah warisan yang terukir dengan darah dan dedikasi, bukan sekadar tinta di atas kertas.

Setiap jengkal tanah Tubaba, seolah menyimpan narasi pilu tentang betapa mahalnya sebuah asa. Sungguh sebuah ironi yang memilukan, bahkan menyedihkan sekali, ketika warisan semulia ini disambut dengan deretan kursi-kursi kosong oleh mereka yang seyogianya menjadi garda terdepan penjaganya.

Dan di sinilah letak puncak ironi yang paling menusuk kalbu: Tanpa perjuangan gigih yang melahirkan Kabupaten Tulang Bawang Barat, kursi DPRD itu mustahil ada. Tidak akan ada 35 ruang kehormatan yang kini memajang kekosongan itu. Mereka menduduki posisi ‘Yang Terhormat’, persis karena entitas Tubaba ini eksis.

Absennya mereka di hari jadi Tubaba bukan lagi perihal mangkir dari agenda rutin, melainkan sebuah penghinaan fundamental terhadap akar eksistensi mereka sendiri. Sebuah penghinaan terhadap “panggung” yang telah dianugerahkan Tubaba. Seolah mengabaikan detak jantung kolektif yang memberi mereka napas kehidupan politik.

Ini bukan lagi soal ‘cinta Tubaba’ sebagai retorika hampa, melainkan ‘cinta’ yang semestinya termanifestasi dalam kesetiaan otentik pada jati diri daerah yang telah memberikan mereka mimbar. Bagaimana bisa seorang representatif rakyat mengklaim mencintai pekerjaannya, jika panggung tempat mereka berkarya, hari kelahirannya, sama sekali tak mereka indahkan.

Ini bukan sekadar ritual seremonial, ini adalah afirmasi identitas kolektif kita sebagai bagian tak terpisahkan dari Tubaba.

Momen HUT ke-17 ini, seharusnya juga menjadi adagium untuk menundukkan kepala. Mengenang dan mempersembahkan tribut penghargaan tertinggi kepada para tokoh pejuang pemekaran. Mereka yang berkorban, yang tak pernah sekalipun menuntut balasan kursi kekuasaan, namun dengan gigih mengukir babak sejarah Tubaba.

Namun, bagaimana mungkin kita dapat menuntut penghormatan terhadap para fundator, jika untuk sekadar hadir dalam ritual sakral peringatan hari jadi saja, para penerus ini justru banyak yang mangkir, Ada apa sebenarnya dengan DPRD Tulang Bawang Barat ini? Apakah kursi-kursi itu terlalu berat bebannya untuk diduduki, ataukah esensi rasa memiliki yang memang sudah terkikis oleh erosi zaman.

Baca Juga :  Polri Hadir untuk Masyarakat: Polres Tubaba Gelar Bakti Kesehatan Meriahkan HUT Bhayangkara ke-79

Pertanyaan ini menggantung, tanpa konklusi pasti, meninggalkan luka yang menganga, membisikkan elegi kekecewaan di setiap simpul kota yang mereka representasikan.

Lalu, bagaimana kita akan mengartikulasikan “cinta Tubaba” di hadapan publik? Bagaimana kita akan terus menggaungkan semangat “pembangunan Tubaba” yang digembar-gemborkan berkelanjutan, berkarakter, dan berakar kuat dalam jiwa masyarakatnya? Sementara para pemangku kebijakan, yang digadang-gadang sebagai lokomotif pembangunan, justru absen di momen yang paling fundamental.

Ini bukan sekadar persoalan disiplin kehadiran. Ini adalah tentang karakter. Ini adalah tentang integritas. Ini adalah tentang rasa kepemilikan yang otentik, bukan sekadar polesan kosmetik. Apakah “cinta Tubaba” yang selama ini kita dengar dan lihat, hanya berupa fatamorgana? Sebuah ilusi visual yang menipu di cakrawala mata, namun sesungguhnya hampa dan tidak benar-benar mengikat dalam sanubari setiap individu yang seharusnya menjadi motor penggerak daerah ini.

Ketidakhadiran 19 anggota DPRD dalam sidang paripurna HUT ke-17 Tubaba adalah sebuah alarm yang nyaring berdentang. Alarm tentang krisis identitas, krisis komitmen, dan krisis rasa memiliki terhadap daerah yang telah membesarkan mereka. Sudah saatnya kita menuntut bukan hanya retorika yang manis di telinga, melainkan aksi nyata yang termanifestasi dari lubuk hati. Bukan lagi sekadar pencitraan yang hampa substansi.

Masyarakat Tubaba berhak mendapatkan lebih dari sekadar janji dan simbolisme. Mereka berhak mendapatkan wakil rakyat yang hadir, berjuang, dan mencintai Tubaba seutuhnya. Bukan hanya di bibir, melainkan di setiap helaan napas dan jejak pengabdian. Semoga peristiwa ini menjadi cambuk. Agar di usia-usia berikutnya, Tubaba benar-benar dirayakan dengan kehormatan dan kebersamaan yang utuh, tanpa cacat sedikit pun.

Editor : Aan

Follow WhatsApp Channel tarakanindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lazismu Tubaba dan MDMC Jenguk Keluarga Korban Tertimpa Rumah Ambruk Di RSUD Tubaba
Izin Resmi TPQ Darul Furqon Al Qodiri Ikhtiar Sunyi Membangun Generasi Qur’ani di Bumi Tubaba
Sinergi Provinsi-Kabupaten: Gubernur Mirza dan Wabup Nadirsyah Pastikan Akses Vital Tubaba Kembali Mulus ​
Azam Fathan Athariz; Santri TPA Baitul Makmur Yang Tampil Tenang Baca Kalam Ilahi Di Hadapan UAS
TURNAMEN USIA MUDA DISPORA CUP 2026, RESMI DI TUTUP.
Persiapkan Generasi Indonesia Emas 2045, Wakil Bupati Tubaba Buka LDK Batara di SMAN 2 Tumijajar
Sambut Ramadan 1447 H, AMM Baitul Makmur Hadirkan Ustadz Abdul Somad dan Rangkaian Kegiatan Syiar Islam Berkemajuan
Polres Tulang Bawang Barat Gelar Pasukan Operasi Keselamatan Krakatau 2026, Ini Sasaran Pelanggarannya

Berita Terkait

Selasa, 7 April 2026 - 21:56 WIB

Ironi Paripurna: Ketika Cinta Tubaba Hanya Sekadar Fatamorgana

Selasa, 17 Maret 2026 - 22:43 WIB

Lazismu Tubaba dan MDMC Jenguk Keluarga Korban Tertimpa Rumah Ambruk Di RSUD Tubaba

Kamis, 5 Maret 2026 - 14:58 WIB

Izin Resmi TPQ Darul Furqon Al Qodiri Ikhtiar Sunyi Membangun Generasi Qur’ani di Bumi Tubaba

Kamis, 5 Maret 2026 - 06:56 WIB

Sinergi Provinsi-Kabupaten: Gubernur Mirza dan Wabup Nadirsyah Pastikan Akses Vital Tubaba Kembali Mulus ​

Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:14 WIB

Azam Fathan Athariz; Santri TPA Baitul Makmur Yang Tampil Tenang Baca Kalam Ilahi Di Hadapan UAS

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Ironi Paripurna: Ketika Cinta Tubaba Hanya Sekadar Fatamorgana

Selasa, 7 Apr 2026 - 21:56 WIB