PENGKHIANAT BANGSA

- Jurnalis

Rabu, 26 November 2025 - 22:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Ahmad Basri: | Rabu. 26.11.2025

Ketua K3PP Lampung

“Jangan ada negara di dalam negara.” Kalimat itu keluar dari Menhan Sjafrie Sjamsoeddin bukan sebagai peringatan biasa tetapi sebagai alarm bahaya tentang kedaulatan negara.

ADVERTISEMENT

iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ucapan itu lahir di sebuah bandara udara milik perusahaan tambang asing bukan milik TNI, bukan milik pemerintah, bukan milik negara.

Lokasinya di Morowali, Sulawesi Tengah, di jantung kekayaan alam Indonesia, yang hari ini lebih terasa seperti wilayah kekuasaan asing yang berdiri di tanah republik.

Perusahaan itu bernama PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Namanya “Indonesia” logonya merah putih, sepak terjangnya mengibarkan nasionalisme. Tetapi semua itu hanyalah topeng.

Di baliknya, perusahaan ini dikuasai oleh kepentingan China. Namanya “Indonesia” hanya dipakai sebagai kamuflase agar publik tidak panik, dan agar pejabat bisa bersembunyi di balik dalih kepentingan investasi.

Baca Juga :  Sebutir Nasi, Sejuta Rasa Syukur

Lebih kejam lagi, bandara perusahaan itu bebas dari pengawasan negara. Orang asing keluar masuk tanpa imigrasi. Tanpa pemeriksaan.Tanpa prosedur. Tanpa pengawasan.

Padahal masyarakat sudah lama menyuarakan kecurigaan tentang adanya “negara dalam negara” pada era Presiden Jokowi.

Kritik rakyat justru dihina, dibantah, dilecehkan oleh pejabat yang merasa paling berkuasa, Luhut Binsar Panjaitan. Jenderal yang sering lebih tampak bergaya preman daripada negarawan.

Semua pejabat daerah pun bungkam. Ada gubernur, ada Pangdam, ada Kapolda, tetapi semuanya menutup mata. Mereka tidak buta. Mereka hanya berpura-pura buta.

Baca Juga :  Ide Jenius Peserta Rakornas BAZNAS Ternak Ayam Persilangan Ubah Nasib Desa

Kini pernyataan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin telah merobek membuka tirai yang selama ini ditutup rapat. Apa yang dulu dianggap hoaks kini menjadi fakta telanjang. Negara bukan hanya kecolongan negara dipermalukan.

Dan yang lebih menyakitkan para pengkhianat bangsa itu bukan datang dari luar negeri. Mereka ada di sini. Ada di ruang rapat. Ada di kursi kekuasaan. Ada dibalik proposal investasi.

Akhirnya kini kita menyaksikan sendiri bagaimana kedaulatan negara diinjak bukan oleh musuh tetapi oleh mereka yang seharusnya menjaga negeri ini.

Rakyat sudah terlalu sering dikhianati.Terlalu sering dibohongi. Terlalu sering dianggap tidak mengerti apa-apa. Tetapi kali ini fakta sudah terbuka. Tidak ada lagi ruang untuk menutupi kebohongan.

Editor : Syam

Follow WhatsApp Channel tarakanindonesia.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MILAD SMK MUHAMMADIYAH TUMIJAJAR KE-30 TAHUN: MAJU, BERPRESTASI, DAN MENDUNIA
“Pemotongan Gaji Guru ASN/PPPK: Tak Boleh Main-main dengan Hak yang Dijamin Konstitusi”
Jejak Sunyi Gus Dur Ketika Zakat Dijadikan Jalan Keadilan Sosial
“2026” Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka
ANGIN HIDUP YANG MENGUJI AKAR JIWA  
Persepsi Negara – Negara di Kawasan Asia Pasifik Terhadap Ancaman Militer China Pasca Perang Dingin ___
Meniti Pusaka Leluhur: Pesan Damai dari Para Sultan
Dari Jalan ke Demokrasi: Warga Prancis Menciptakan Ruang Baru

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 22:50 WIB

MILAD SMK MUHAMMADIYAH TUMIJAJAR KE-30 TAHUN: MAJU, BERPRESTASI, DAN MENDUNIA

Sabtu, 24 Januari 2026 - 18:10 WIB

“Pemotongan Gaji Guru ASN/PPPK: Tak Boleh Main-main dengan Hak yang Dijamin Konstitusi”

Senin, 19 Januari 2026 - 10:02 WIB

Jejak Sunyi Gus Dur Ketika Zakat Dijadikan Jalan Keadilan Sosial

Kamis, 1 Januari 2026 - 06:58 WIB

“2026” Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka

Rabu, 26 November 2025 - 22:59 WIB

PENGKHIANAT BANGSA

Berita Terbaru

Pesawaran

Daun Pintu RTLH TMMD Ke 127 Kodim 0421/LS Mulai Dipasang

Sabtu, 28 Feb 2026 - 08:36 WIB