Oleh: Ansyori Ali Akbar, (Jurnalis ) Minggu|23.11.2025
Ada momen dalam hidup ketika kita merasa dunia mengguncang kita tanpa henti. Angin datang dari arah yang tak terduga, membawa berita yang membuat hati goyah atau kejadian yang meruntuhkan rencana yang telah lama kita susun.
Secara psikologis, manusia memang cenderung menginginkan kestabilan, rasa aman, dan kontrol atas apa yang mungkin terjadi. Namun, hidup tidak bekerja dengan pola sesederhana itu. Ada kekuatan yang diam-diam menguji fondasi terdalam diri kita not (Tidak) untuk mematahkan, tetapi untuk menunjukkan seberapa kokoh kita berdiri di hadapan perubahan.
Di sisi sosial, setiap orang menghadapi angin kehidupannya masing-masing. Ada yang diuji dengan kehilangan, ada yang diuji dengan penolakan, ada yang diuji oleh ketidakpastian masa depan.
Pada akhirnya, angin itu tidak datang untuk merusak, tetapi untuk menyingkap akar mana yang rapuh dan akar mana yang kuat. Dari situlah, kita memperoleh pelajaran bahwa kekuatan tidak lahir ketika keadaan tenang, melainkan ketika jiwa kita tetap tegak saat dunia di sekitar bergerak liar.
Di titik itu, kita menemukan bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang mengenal inti keberanian dalam diri kita.
Saat badai datang, kita mulai mengenali bagian mana dalam diri kita yang sebenarnya menjadi sumber kekuatan. Bisa jadi itu keyakinan spiritual, nilai hidup, orang-orang yang kita cintai, atau pengalaman pahit yang pernah mengajarkan ketabahan.
Menyadari ini membuka pemahaman bahwa akar kekuatan tidak selalu tampak di permukaan, tetapi hadir sebagai fondasi sunyi yang menyangga hidup kita.
Angin yang datang bukan selalu sebuah peringatan bahwa kita akan tumbang. Kadang ia hadir untuk membantu kita melihat kelemahan yang perlu diperbaiki.
Penerimaan terhadap kenyataan bahwa ujian memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan membuat hati lebih lapang dan pikiran lebih jernih. Dari penerimaan itu, kita menemukan ketenangan yang tidak mudah goyah.
Keberanian bukanlah ketidak takutan, melainkan kemampuan untuk terus berdiri meski hati sedang gemetar. Ketika angin bertiup kencang, kita menemukan bahwa diri kita mampu melampaui apa yang kita kira. Setiap momen sulit menjadi bukti bahwa jiwa manusia lebih kuat daripada yang ia percaya.
Banyak orang berfokus pada bagaimana terlihat kuat di mata dunia, padahal yang paling menentukan adalah kekuatan batin yang tidak dilihat siapa pun.
Membangun akar berarti memperkuat prinsip hidup, kejujuran pada diri sendiri, dan kedalaman hubungan dengan Tuhan. Di sinilah kita menyadari bahwa kekuatan sejati tumbuh dari ketenangan, bukan dari ketegangan.
Tidak ada kejadian yang datang tanpa membawa pembelajaran. Bahkan angin yang paling menyakitkan sekalipun menyimpan pesan tersembunyi tentang diri kita. Ada saatnya kita menyadari bahwa angin tidak hanya menguji, tetapi juga membentuk arah hidup yang baru. Ia membawa kita ke tempat yang lebih matang, lebih bijak, dan lebih dewasa dalam memandang dunia.
Jika angin yang sedang kau hadapi saat ini ternyata bukan untuk menjatuhkanmu, melainkan untuk menunjukkan seberapa kuat akar jiwamu beranikah kau melihatnya dari sudut itu ?
Editor : Aan












